Sabtu, 28 Desember 2013

Apa Yang Harus Kami Lakukan

Dalam kata takkan dapat terkira
Semua berubah sangat berbeda
Mungkinkah kembali zaman kegelapan itu

Melihat rakyat-rakyat menderita
Aku bingung harus bagaimana lagi

Kelaparan tidur dipinggiran
 Berselimutkan dinginnya angin malam
Dihamparan bumi yang beratapkan langitmu

Ya Rasulullah…
Apa yang harus dilakukan para pemimpin
Bukankah seharusnya ia
Membela yang lemah dan membantu yang miskin
Namun pemimpin seperti itu
Bagaikan jarum di tumpukan jerami

Ya Rasulullah…
Apa yang harus dilakukan para ulama
Bukankah seharusnya ia
Memberikan contoh yang baik dan mendukung para pemimpin
Tapi ulama itu sudah menghilang entah kemana

Apa yang harus kami lakukan ya Rasulullah
Siapa lagi yang harus kami pilih jadi pemimpin
Siapa lagi yang harus kami dengarkan fatwa-fatwanya

Ya Allah…
Tunjukanlah jalan lurusmu
Jalan orang-orang yang engkau berkahi

MAGHFIRAHMU



Wahai zat pencipta ruh
Hamba hanyalah setetes air di samudramu yang luas
Di bawah kudrat mu
Hamba bukanlah apa-apa
Lemah tiada daya

Tanpa mengfirah mu
Hamba cacat penuh dosa
Alangkah malu bila raga ini mengingkari nikmatmu
Sedang jasad ini
Hanya sekian hasta menuju kubur

Namun mengapa
Masih banyak hamba mu yang sanggup  
melakukan dosa

Lahaulawala kuwwata illa billah

Apakah mereka tak sadar
Semua akan hancur pada akhirnya
Mungkin tanah tempat berpijak kini
Hanya bisa tersenyum
Dan berkata “ sadar lah wahai manusia “

Yarasulallah ,
Kami malu bercermin pada air jernihmu
Malu pada lisan yang pandai berjanji
Namun tak pandai menauladani
Malu pada tanah tempat akhir hamba terbujur kaku
Berpamit pada dunia , kembali pada tanah selamnya .

DEMI MASA



Demi masa …….. ?
Ku rela menghabiskan masa mudaku
Hanya untuk bergelut
Dengan tumpukan – tumpukan buku
Persiapan masa depan yang cerah

“WAL ASR” demi masa
Janganlah kau sia – siakan masa muda mu
Karna sedetikpun tak kan kembali

Menanti masa depan yang cerah
Bak semilir lembut hembusan angin sore
Pasti, namun tak tentu

Untuk yang masih samar
Manusia rela mencari dan mencari ilmu
Hingga ke negeri cina

Demi masa depan gemilang
Raihlah walau begitu kencang angin bergembus
Hingga mentari pagi terbit dengan begitu indah
Cahaya kemilau yang menyilaukan mata, namun menghangatkan dunia

Buatlah negerimu tersenyum,
Dan buktikan
Ada sosok pemuda dari pelosok negeri

Buatlah orang tuamu bangga
Tunjukkan
Mereka tak salah menjaga mentari kecilnya
Seindah pelangi yang muncul seusai hujan

Bertawakkal, berserah
Memohon kepada Allah

Semoga sang khalik
Menggariskan apa yang terbaik
Demi masa depan yang kita inginkan

Kamis, 26 Desember 2013

KEIKHLASAN

            Suatu kata yang sangat sederhana, namun begitu sarat akan makna. Nilai yang terkandung dalam kata itu mempunyai arti. Keikhlasan adalah suatu niat baik dengan disertai ketulusan tanpa pamrih. Dan keikhlasan juga harus disertai tekad yang kuat, karena tak jarang selalu ada hambatan dan goncangan sebagai ujian dalam melaksanakan sesuatu.
            Keikhlasan harus juga disadari dan dipahami, merupakan sesuatu yang mudah dan bahkan sangat mudah. Namun, pada dewasa ini, segalanya berubah. Semua aktivitas dan kegiatan terlalu mudah dinilai dengan uang sehingga hidup menjadi materealistis dan nilainya berkurang.Padahalnya sebenarnya pada saat kita kembali kerahmatullah, yang kita bawa bukanlah uang, tapi amal kebaikan. Mungkin saja salah satu amal kebaikan itu melalui jalan keikhlasan terhadap apa yang kita lakukan.
            Memang, perlu kita sadari bahwa hidup memerlukan uang. Namun, uang bukanlah segalanya. Pahami uang “untuk hidup, bukan hidup untuk uang”. Dan saat ini orang banyak menyalah artikan hal tersebut.
            Keikhlasan sebenarnya tidak hanya memberi, tapi juga dalam menerima. Contohnya antara guru dan murid yang berada di dalam ruang kelas. Keduanya juga harus saling ikhlas. Sebagai guru kita harus ikhlas memberikan ilmu dan sebagai muridpun ikhlas menerima ilmu. Jika ini terjadi maka insyaAllah sampailah ilmu tersebut.
            Dalam mengajar dan berposisi sebagai guru, konsep keikhlasan sangat penting. Karena bagaimanapun juga pembawaan dan rasa yang kita miliki akan sangat berbeda jika dilakukan dengan keikhlasan. Saat menjelaskan, mengajarkan, dan menyampaikan materi akan terasa lebih nikmat jika dilakukan dengan penuh keikhlasan. Dan fikiranpun lebih tenang, konsep mengajar tidak akan terganggu.
            Sangat jauh berbeda dengan mengajar tanpa keikhlasan. Semua terasa berat terasa sehingga seakan terpaksa. Situasi yang kurang kondusif juga akan menambah kacaunya keadaan. Dan hal seperti ini akan sangat berisiko. Karena hanya akan menyisakan rasa dendam. Apalagi parahnya jika tujuan dendam tersebut adalah peserta didik.
            Bagi guru-guru honorer sangat dibutuhkan rasa keikhlasan ini. Bagaimana tidak, totalitas dan loyalitas telah dijunjung tinggi walaupun insentif yang kita terima hanya sebagian yang sangat kecil jika dibanding para koruptor. Kita hanya mengamalkan keikhlasan, apa yang masih sanggup kita kerjakan, maka kita jangan berkata tidak. Tanpa mengharapkan apapun dan dari pihak manapun.
            Jika hidup berpatokan pada materi, maka tunggulah dan masalah pasti menanti. Berpatokan pada materi sangatlah berbahaya, karena akan mempengaruhi akal sehat. Bagaimana tidak, kita akan selalu mengikuti hawa nafsu tanpa menyadari batas kemampuan kita. Dan bersyukurlah atas apa yang telah Allah berikan.
            Apabila materi lebih penting, maka konsep keikhlasan pasti akan memudar. Tanggung jawabpun dapat bergeser dengan keadaan ini. Keikhlasan bagaikan angin, tak terlihat namun dapat dirasakan. Dan siapa yang bisa merasakan keikhlasan itu sungguh orang-orang yang sangat beruntung. Berbuat baiklah kepada orang lain seperti Allah memberikan baik terhadap diri kita.
25 3 12

KEKAGUMANMU MEMBUATKU SADAR DIMANA POSISIKU SAAT INI



Detak jarum jam terus berlalu. Saat semuanya terasa hening,jarum jam tetap berputar pada porosnya, memberikan nada tersendiri dalam dawai dunia. Tanpa terasa mentari merangkak pulang dengan rona merahnya. Rasa lelah tak berujung pada putri malam hadir kembali.
Tersadar sendiri ku di kursi jati yang using, menyaksikan mentari yang pulang dan melihat hadirnya sang putri malam. Apa yang ada dalam benakku saat itu, tiada satupun yang tahu. Sendiri, diam dan merenung. Beberapa pertanyaanpun bergelayut, menggantung, “sesombong itukah dia ?”.
Hari yang terus berganti, dan ternyata sangat banyak kenangan dan kejadian yang telah terlewati. Mungkin, hanya lirikan dan sapaan-sapaan kecil yang pernah terlihat dan terlontar dari mulut dan matanya. Namun semakin sering itu terjadi, maka rasa penasaran ini juga semakin besar. Yang ku takutkan bila rasa penasaran itu menjadi bom waktu yang siap meledak di pundakku.
Beberapa kesempatan berlalu, sempat terselip beberapa canda gurau yang juga kadang hanya ku jawab dengan sebuah senyuman. Namun lirikan tajam dari mata indahnya membuatku kadang takmampu tuk bertahan lebih lama tuk bertahan dalam penasaran ini. Sempat beberapa waktu, ingin hatiku bertanya lebih jauh, namun masih berfikir di otakku, “apakah ini tidak terlalu cepat ?”.
Mendekati akhir kisah takdir yang mempertemukanku untuk mengenalnya, keakraban mulai hadir walaupun hanya berbalas pesan. Penasaran yang telah diujung nadirpun mulai sedikit terjawab. Lihatlah kemana arah angina berhembus, maka kau akan tahu kemana harus melangkah, itu merupakan jalan untuk mengurangi rasa penasaranku. Memulai dari sebuah informasi yang kurasa cukup penting baginya, dan ternyata benar, ia senang dengan informasi tersebut.
Kurasa, tahap awal telah berjalan dengan baik untuk menjalin keakraban ini. Selang beberapa saat, keakraban itu terasa menyenangkan dan kurasa ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa telah lama mengenal dirinya. Entah mungkin dari pembawaannya yang dewasa dan terkesan agak manja atau yang lainnya. Dan dari beberapa yang terbalas, dia merupakan orang yang baik.
Dari beberapa balasan yang ku dapat, ada beberapa yang membuatku kaget dan tergumam, ternyata dalam diam dia juga menyimpan banyak Tanya terhadapku, bahkan ada beberapa jawaban yang telah ia dapatkan. Decak kagum juga sempat terlontar di ucapannya. Dan seketika aku mengerti bahwa kekagumanmu membuatku sadar dimana posisiku saat ini.
Apakah yang akan terjadi setelah ini, tiada seorangpun yang tahu. Berawal dari rasa penasaran hingga kesadaran yang diperoleh. Jika memang sesuatu telah menjadi garis takdir sang khalik, maka itu yang akan kita jalani. Sekuat apapun daya dan upaya yang akan kita lakukan, tapi ketetapan itu tak akan pernah berubah.